اب سے ہم Elev8 ہیں
ہم صرف ایک بروکر نہیں ہیں۔ ہم ایک جامع ٹریڈنگ ایکوسسٹم ہیں—ہر چیز جو آپ کو تجزیے، ٹریڈ اور ترقی کے لیے درکار ہو، ایک ہی جگہ پر ہے۔ کیا آپ اپنی ٹریڈنگ کو بلند کرنے کے لیے تیار ہیں؟
ہم صرف ایک بروکر نہیں ہیں۔ ہم ایک جامع ٹریڈنگ ایکوسسٹم ہیں—ہر چیز جو آپ کو تجزیے، ٹریڈ اور ترقی کے لیے درکار ہو، ایک ہی جگہ پر ہے۔ کیا آپ اپنی ٹریڈنگ کو بلند کرنے کے لیے تیار ہیں؟
Rupiah Indonesia (IDR) kembali menunjukkan pelemahan dalam lima sesi terakhir pada hari Selasa, tergelincir mendekati level Rp16.409 per dolar AS (USD) menjelang sesi Eropa. Ini menjadi level tertinggi dalam lebih dari dua pekan dan mencerminkan tekanan bertahap yang terus menguat terhadap mata uang Garuda. Setelah sempat stabil di bawah Rp16.300, rupiah kehilangan momentumnya di tengah meningkatnya permintaan global terhadap Dolar – didorong oleh ekspektasi kebijakan moneter ketat serta meredanya tensi dagang usai AS menandatangani beberapa kesepakatan penting, termasuk pakta terbaru dengan Uni Eropa.
Di tengah dinamika ini, sorotan pasar juga tertuju pada perundingan dua hari antara AS dan Tiongkok yang digelar di Stockholm. Fokus utama terletak pada potensi penundaan tarif tambahan yang dijadwalkan berlaku 12 Agustus, serta isu-isu jangka pendek seperti ekspor semikonduktor, mineral tanah jarang, dan akses pasar. Sementara itu, Presiden Trump mengambil sikap lebih agresif terhadap Rusia, dengan mempercepat tenggat sanksi yang secara tidak langsung menyeret Tiongkok sebagai salah satu konsumen utama minyak Rusia.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh sinyal melemahnya arus modal masuk. Penanaman Modal Asing (PMA) atau FDI tercatat turun 6,95% pada kuartal II 2025, hanya mencapai Rp202,2 triliun — kontras dengan pertumbuhan 12,7% pada kuartal sebelumnya. Ini merupakan kontraksi kuartalan pertama sejak 2021 dan memperlihatkan bagaimana daya tarik investasi Indonesia mulai diuji kembali, seiring daya beli yang melemah dan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap ketidakpastian kebijakan tarif AS.
Kembalinya minat terhadap aset berbasis Dolar menjadi salah satu elemen utama yang mempersempit ruang gerak rupiah di pasar global. Indeks Dolar (DXY) sempat melesat ke 98,68, didorong oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama — kebijakan yang memperkuat daya tarik aset berbasis dolar dan menekan mata uang pasar berkembang.
Namun untuk saat ini, laju Dolar terlihat mulai melambat sementara pasar bersiap menyambut keputusan FOMC Rabu ini. The Fed secara luas diprakirakan akan mempertahankan suku bunga di level saat ini, namun perhatian akan tertuju pada nada pernyataan resmi dan konferensi pers Ketua Jerome Powell. Pelaku pasar akan mencermati petunjuk arah suku bunga ke depan – apakah akan tetap tinggi, mulai melunak, atau bahkan membuka ruang pemangkasan.
Rangkaian data ekonomi AS yang akan dirilis Selasa malam waktu AS juga menjadi fokus tambahan. Laporan lowongan kerja JOLTS dan Indeks Keyakinan Konsumen Conference Board berpotensi menjadi katalis jangka pendek bagi Dolar AS. Bersama dengan dinamika sentimen risiko global, data ini akan menentukan arah pergerakan pasangan mata uang USD/IDR.
Lowongan Pekerjaan JOLTS adalah survei yang dilakukan oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS untuk membantu mengukur lowongan pekerjaan. Mengumpulkan data dari sejumlah pengusaha termasuk pengecer, produsen dan kantor-kantor yang berbeda setiap bulan.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Sel Jul 29, 2025 14.00
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 7.55Jt
Sebelumnya: 7.769Jt
Sumber: US Bureau of Labor Statistics