From now on we Elev8
We're more than just a broker. We're an all-in-one trading ecosystem—everything you need to analyse, trade, and grow is in one place. Ready to elevate your trading?
We're more than just a broker. We're an all-in-one trading ecosystem—everything you need to analyse, trade, and grow is in one place. Ready to elevate your trading?
Pergerakan rupiah pada akhir sesi Asia Rabu memperlihatkan tekanan yang kembali menguat, dengan nilai tukar pasangan mata uang USD/IDR naik ke sekitar 16.989 dan para penjual rupiah terus mendesak area psikologis 17.000 yang menjadi fokus utama pasar. Sepanjang sesi, pergerakan berada dalam rentang 16.943 hingga 17.024, dengan kecenderungan naik yang cukup konsisten, mencerminkan bahwa permintaan dolar masih mendominasi. Tekanan ini muncul di tengah kombinasi penguatan dolar global serta data domestik yang belum sepenuhnya memberi dorongan, termasuk surplus neraca perdagangan yang meskipun tetap positif, tercatat di bawah ekspektasi pasar.
Rangkaian data ekonomi Indonesia yang dirilis Rabu menunjukkan dinamika yang mulai bergeser ke fase moderasi, dengan aktivitas manufaktur melambat dan tekanan harga yang mereda. Indeks PMI manufaktur tercatat turun signifikan ke level 50,1 pada Maret dari sebelumnya 53,8, mengindikasikan ekspansi yang nyaris tertahan. Di sisi inflasi, laju tahunan melandai ke 3,48% dari 4,76%, sementara inflasi inti juga turun ke 2,52% dari 2,63%, dan inflasi bulanan tercatat 0,41% dari sebelumnya 0,68%, mencerminkan mulai meredanya tekanan harga di dalam negeri.
Di sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus sebesar US$1,28 miliar pada Februari, meningkat dari US$0,96 miliar pada periode sebelumnya, meskipun berada di bawah ekspektasi pasar sebesar US$1,55 miliar. Kinerja perdagangan menunjukkan perlambatan, dengan ekspor hanya tumbuh 1,01% secara tahunan, turun dari 3,39%, sementara impor naik 10,85% dibandingkan 18,21% sebelumnya. Secara keseluruhan, kombinasi data ini menyiratkan bahwa ekonomi domestik mulai kehilangan momentum di tengah tekanan global, meskipun fundamental eksternal masih memberikan bantalan yang relatif stabil.
Dari sisi global, perhatian pasar tertuju pada data tenaga kerja Amerika Serikat yang menunjukkan jumlah lowongan kerja (JOLTS) turun menjadi 6,882 juta pada Februari dari 7,24 juta pada Januari, berada di bawah ekspektasi 6,92 juta. Penurunan ini diiringi oleh pelemahan perekrutan ke 4,8 juta, sementara total pemisahan relatif stabil di 5,0 juta, mencerminkan pasar tenaga kerja yang mulai kehilangan momentum. Di sisi lain, Indeks Keyakinan Konsumen AS naik tipis ke 91,8 dari 91,0, menandakan perbaikan moderat dalam persepsi kondisi saat ini meskipun tren jangka panjang masih cenderung menurun.
Perkembangan geopolitik masih menambah ketidakpastian, setelah Presiden Donald Trump menyatakan operasi militer AS terhadap Iran diprakirakan selesai dalam dua hingga tiga minggu. Namun, peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan di Selat Hormuz tetap menjaga harga minyak tinggi.
Kondisi ini membangun ekspektasi inflasi global sekaligus memunculkan tekanan domestik, mengingat Indonesia bergantung pada impor LPG. Kenaikan harga energi berpotensi menambah beban impor dan menekan stabilitas rupiah, sementara ekspektasi suku bunga global yang lebih tinggi terus menopang dolar.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada sejumlah data penting dari Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis pada Rabu malam, termasuk laporan ketenagakerjaan ADP, grup kontrol penjualan ritel, serta data penjualan ritel utama dan non-otomotif untuk Februari. Selain itu, pasar juga akan mencermati rangkaian indikator sektor manufaktur seperti PMI dan ISM manufaktur, termasuk komponen harga, ketenagakerjaan, dan pesanan baru, yang akan memberikan gambaran lebih dalam mengenai kondisi aktivitas ekonomi AS. Pernyataan dari pejabat Federal Reserve juga turut menjadi perhatian, mengingat setiap sinyal kebijakan berpotensi membentuk ulang ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga, yang pada akhirnya akan menentukan pergerakan dolar dan arah lanjutan rupiah.
Perubahan Ketenagakerjaan ADP merupakan pengukur ketenagakerjaan di sektor swasta yang dirilis oleh pemroses payrolls terbesar di AS, Automatic Data Processing Inc. Alat ini mengukur perubahan jumlah orang yang bekerja secara swasta di AS. Secara umum, kenaikan indikator ini memiliki implikasi positif bagi belanja konsumen dan merupakan stimulator pertumbuhan ekonomi. Jadi, pembacaan yang tinggi secara tradisional dianggap sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dianggap bearish.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Apr 01, 2026 12.15
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 40Rb
Sebelumnya: 63Rb
Sumber: ADP Research Institute
Pedagang sering mempertimbangkan data ketenagakerjaan dari ADP, penyedia payrolls terbesar di Amerika ini, melaporkan sebagai pertanda dari rilis Biro Statistik Tenaga Kerja tentang Nonfarm Payrolls (biasanya diterbitkan dua hari kemudian), karena korelasi antara keduanya. Terjadinya tumpang tindih kedua seri tersebut cukup tinggi, tetapi pada bulan-bulan tertentu, perbedaannya bisa sangat besar. Alasan lain pedagang Valas mengikuti laporan ini sama dengan NFP – pertumbuhan angka ketenagakerjaan yang kuat dan terus-menerus meningkatkan tekanan inflasi, dan bersamaan dengan itu, kemungkinan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga. Angka aktual yang mengalahkan konsensus cenderung membuat USD bullish.