اب سے ہم Elev8 ہیں
ہم صرف ایک بروکر نہیں ہیں۔ ہم ایک جامع ٹریڈنگ ایکوسسٹم ہیں—ہر چیز جو آپ کو تجزیے، ٹریڈ اور ترقی کے لیے درکار ہو، ایک ہی جگہ پر ہے۔ کیا آپ اپنی ٹریڈنگ کو بلند کرنے کے لیے تیار ہیں؟
ہم صرف ایک بروکر نہیں ہیں۔ ہم ایک جامع ٹریڈنگ ایکوسسٹم ہیں—ہر چیز جو آپ کو تجزیے، ٹریڈ اور ترقی کے لیے درکار ہو، ایک ہی جگہ پر ہے۔ کیا آپ اپنی ٹریڈنگ کو بلند کرنے کے لیے تیار ہیں؟
Harga batu bara ICE Newcastle front month menutup hari Jumat lalu di 122,45 yang lebih rendah 2,62% dari hari sebelumnya. Batu bara ini dibuka di 122,45 dan tidak berubah sepanjang hari Jumat. Ini juga merupakan level terendah sejak 2 Maret 2026, level terendah pasca konflik AS-Israel dengan Iran dimulai pada akhir Februari 2026. Dengan demikian, komoditas ini semakin dekat menuju level-level pra-konflik meskipun belum ada tanda-tanda konflik tersebut akan berakhir dalam waktu dekat.
Batu bara mempertahankan penembusan kisaran konsolidasi, memperpanjang penurunan dari dekat ujung atas kisaran. Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 34,94 jelas mengindikasikan momentumnya bearish dan masih ada ruang di sisi bawah sebelum masuk ke zona jenuh jual. Namun, dalam jangka lebih panjang komoditas ini secara teknis masih dalam tren naik karena bergerak di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari.
Suhu di pelabuhan Newcastle Australia 18°C dengan kondisi sebagian besar cerah. Peluang hujan rendah sehingga proses pemindahan batu bara ke kapal-kapal di pelabuhan berjalan dengan semestinya. Dengan demikian, pengaruh cuaca dieliminasi dari faktor yang dapat memengaruhi harga batu bara dalam jangka pendek.
Konflik AS-Iran kembali menghangat usai Iran menolak untuk melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) meskipun Presiden AS, Donald Trump, mengindikasikan bahwa para negosiator akan ke Pakistan untuk melakukan perundingan.
Penolakan Iran itu terjadi tengah masih berlangsungnya blokade pelabuhan-pelabuhan Iran dan penyerangan kapal komersial berbendera Iran oleh AS. Meskipun demikian, gencatan senjata masih berlaku di antara kedua belah pihak.
Ketidakpastian atas situasi di Timur Tengah terus memengaruhi sentimen untuk komoditas-komoditas seperti yang terlihat pada minyak West Texas Intermediate yang pada satu titik turun ke $78,88 Jumat lalu untuk saat ini berada di atas $86.
Di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode kedua April 2026 dalam Kepmen ESDM No. 145.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba), Tri Winarno, dalam Seminar dan Konvensi Nasional BK Tambang Persatuan Insinyur Indonesia (PII) 2026 pada pekan lalu memberikan beberapa pernyataan penting. Tri Winarno mengatakan, "Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, energi menjadi fondasi kedaulatan. Indonesia harus mampu bertahan, beradaptasi, dan bahkan memimpin dalam lanskap energi global," seperti dikutip dalam situs Direktorat Jendral Menieral dan Batubara.
Tri Winarno meyebut cadangan minyak mencapai 2,32-4,4 miliar barel dan gas bumi sekitar 34,78-55,85 triliun kaki kubik. Sementara cadangan batu bara mencapai 31,95 miliar ton dan sampai saat ini lebih dari 60% pembangkit listrik nasional berasal dari batu bara.
Namun, Dirjen Minerba memaparkan bahwa pemerintah telah menetapkan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 dengan target penambahan kapasitas 69,5 gigawatt dengan 61% berasal dari energi terbarukan yang merupakan bagian dari transisi energi. Sebuah rencana yang dapat mengurangi konsumsi batu bara di dalam negeri. Namun di saat yang sama, persentase untuk ekspor bisa bertambah dalam total produksi nasional.

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.